Selasa, 24 November 2020

Benda Syirik Itu Bernama Bidara

Penggunaan daun bidara sebagai obat mulai dikenal seiring dikenalnya terapi ruqyah.

Dulu orang tidak tahu bidara itu apa, bahkan di masarakat pesisir, bidara yang nama lokalnya widaran adalah tanaman liar yang kehadirannya dirasa mengganggu sehingga banyak yang di tebang atau dibakar.


Munculah para peruqyah syar'i yang menggunakan daun bidara untuk membantu mengusir jin didalam tubuh pasien. Apa yang dilakukan peruqyah sendiri meniru ulamaCaranya adalah ambil daun bidara 7 lembar. Tumbuk dengan benda/alat yang berbahan batu. Campur air putih panas. Biarkan hingga air dingin, kemudian bacakan an nas, al falaq dan al ikhlas.


Betulkah jin takut dengan pohon bidara? Tidak betul samasekali. Jin hanya tidak menyukai pohon bidara. Sebagai gambarannya gini: saya tidak suka sambel, tapi bukan berarti saya akan takut masuk rumah makan yang ada sambelnya.


Sayang sekali, belakangan kepercayaan masarakat pada pohon bidara berlebihan. Ada yang sudah sampai pada khurafat, malah ada yang sudah bisa dikatakan  syirik.


Beberapa kali saya meruqyah seseorang dirumahnya dan saya lihat ada pohon bidara dalam pot, ditaruh di kamar. Padahal bidara itu pohon yang harus kena matahari secara langsung. Dan kalau sudah tumbuh, kurang dari setahun ruang ukuran 4x4 meter ga akan muat menampungnya


Bukan cuma sampai disitu, dukun-dukunpun sudah mulai banyak yang menjual jimat kalung bidara untuk penangkal gangguan jin


Maka lewat tulisan ini saya ingin menegaskan bahwa kalau anda percaya jin takut pada bidara itu khurafat. Dan kalau anda menjadikan pohon bidara sebagai penangkal gangguan jin dengan menanamnya depan rumah, atau bahkan meletakannya di dalam kamar ,apalagi dibuat jimat berbentuk kalung dan lain sebagainya itu syirik.


Didepan rumah saya ada dua pohon bidara yang tumbuh subur tapi dihati saya tidak ada keyakinan sedikitpun bahwa jin takut masuk rumah karena adanya pohon bidara itu.


Sengaja saya tanam depan rumah karena banyak orang datang untuk ruqyah dan daun bidara itu saya gunakan untuk membantu terapi ruqyahnya


(Bisa dibilang peruqyah yang mempopulerkan manfaat bidara, maka semua peruqyah punya kewajiban moral mengawal pemahaman masarakat tentang manfaat bidara agar tidak kebablasan)


Iwan Abu Naja


Reepost : Syuhada Hanafi II

Tidak ada komentar:

Posting Komentar