Rabu, 15 September 2021

JANGAN ASAL MANDI

*Junub _adalah kondisi yang mewajibkan mandi dengan meratakan air ke seluruh tubuh disebabkan keluarnya mani atau berjima' (berhubungan suami isteri)._*


_Junub termasuk hadats besar yang sholat dianggap tidak sah sehingga seseorang wajib bersuci dengan mandi._ 


*Tata cara mandi junub ringkasnya sebagai berikut:*


*_1). Niat mandi junub tanpa melafalkan bacaan tertentu. Karena esensi niat adalah tekad yang kuat di dalam hati dan niat ini yang membedakan mandi junub dengan mandi biasa._*


*_2). Menggunakan air secukupnya karena Nabi ﷺ melarang memakai air secara berlebihan._*


*_3). Mencuci kedua telapak tangan._*


*_4). Menuang air dengan tangan kanan ke tangan kiri lalu mencuci kemaluan dengan tangan kiri berdasarkan hadits Maimunah._*


*_5). Berwudhu dengan sempurna seperti wudhunya sholat. Ini bisa diawal mandi atau setelah mandi._*


*_6). Mengambil air dengan jari-jemari lalu menyela-nyela rambut dengan hingga ke pangkalnya._*


*_7). Menyiram kepala dari kanan sebanyak tiga kali kemudian ke sebelah kiri hingga rata seluruh kepala._*


*_8). Mengalirkan air ke seluruh anggota tubuh._*


*Dari Aisyah Ummul Mukminin rodhiyallahu 'anha beliau berkata,*


*_"Rosulullah ﷺ apabila mandi junub beliau mulai mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk sholat, lalu memasukkan jari jemarinya ke dalam air dan menggosokkannya ke kulit kepala, lalu menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau alirkan air ke seluruh kulit tubuhnya."_* 


*(HR. Al-Bukhori 248 dan Muslim 316)*


*_Cara mandi junub yang disebutkan di atas adalah cara mandi junub yang sempurna dan ini yang lebih utama. Demikian yang disampaikan oleh para ulama._*


*_Adapun mandi junub hanya dengan meratakan air ke seluruh tubuh tanpa mengikuti urutan di atas maka sah mandinya selama ada niat._*



•┈┈┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈┈┈•


*✍🏻Reposted by  : ☘️ADMIN ☘️*

APA ITU MAKNA TUMA’NINAH?

Tuma'ninah artinya diam sejenak setelah gerakan sebelumnya, kira-kira setelah semua anggota badan tetap (tidak bergerak) dengan kadar lamanya waktu setara dengan membaca bacaan kalimat tasbih (subhanallah).


Gerakan shalat yang perlu ditekankan untuk tuma’ninah ialah: 

1. Ruku’ dan thuma’ninah (tidak tergesa-gesa)

2. I’tidal (bangkit dari rukuk) dan thuma’ninah

3. Sujud dua kali dalam satu raka’at, disertai thuma’ninah

4. Duduk di antara dua sujud, disertai thuma’ninah


Dalil yang menunjukkan perintah untuk thuma’ninah dapat dilihat pada hadits musii’ sholatuhu (orang yang jelek shalatnya).


Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397).


Dalam riwayat lain:


“… kemudian rukuk sampai tuma’ninah dalam rukuknya, kemudian mengangkat badannya sampai berdiri lurus”. (HR. Bukhari no. 793, Muslim no. 397).


Dalam riwayat lain, dari Abu Mas’ud Al Badri radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’ alaihi wasallam  bersabda:


“Tidak sah shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang sulbinya ketika rukuk dan sujud”. (HR. Tirmidzi no. 265, Abu Daud no. 855, At Tirmidzi mengatakan: “hasan shahih”).


Ibnul Qayyim rahimahullah setelah membawakan riwayat Abu Mas’ud ini beliau mengatakan:


“Hadits ini adalah dalil tegas bahwa meluruskan punggung dan tuma’ninah dalam i’tidal itu adalah rukun dalam shalat, tidak sah shalat kecuali harus demikian”. (Ash Shalatu wa Ahkamu Tarikiha, 1/122).

___________

Referensi: Rumaysho.com

SABAR DALAM MENCARI & MENYAMPAIKAN ILMU


Allah subhanu wata’ala berfirman :

وَاصْبِرْ نَفْسَك مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya.”

(QS. Al Kahfi: 28)

Yahya bin Abi Katsir dalam menafsirkan ayat ini berkata : “Ia adalah majlis-majlis fikih.”

Maka dari itu tidak seorang pun dapat meraih ilmu melainkan dengan sabar, karena sabar adalah salah satu pondasi terkuat tuk meraih ilmu.

Dengan sabar, seseorang akan selamat dari buruknya kebodohan, dan dengannya pula kan ia dapatkan lezatnya ilmu.

Sabar dalam ilmu ada dua macam:

1. Sabar dalam mencari dan mempelajarinya.

Menghafal membutuhkan kesabaran. Memahami membutuhkan kesabaran. Menghadiri majelis-majelis ilmu membutuhkan kesabaran. Menjaga hak sang guru membutuhkan kesabaran.

2. Sabar dalam mengajarkan ilmu.

Duduk mengajarkan para murid membutuhkan kesabaran. Memahamkan mereka membutuhkan kesabaran. Menghadapi kesalahaan-kesalahan mereka membutuhkan kesabaran.

Semoga Allah karuniakan kita hati yang sabar dan istiqomah dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya..

Penulis:
Ustadz M. Fatwa Hamidan, Lc.
(Pengajar di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta)

KISAH DUSTA YANG MENIMPA AISYAH RADHIYALLAHU 'ANHA

Setelah gagal menyulut sentimen kesukuan ditengah para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kaum munafik tidak lantas putus asa. Mereka memanfaatkan insiden lain untuk menyebar racun di tengah kaum Muslimin. Peristiwa ini terkenal dengan haditsul ifki (kisah dusta).


Kisah ini bermula ketika istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapat giliran menyertai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Muraisi’ ini yaitu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma kehilangan kalungnya saat perjalanan menuju Madinah pasca peperangan.


Dalam perjalanan pulang itu, mereka beristirahat di sebuah tempat. Saat itu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma keluar dari sekedupnya (semacam tandu yang berada di atas punggung unta) untuk suatu keperluan. Ketika kembali ke sekedupnya, beliau Radhiyallahu anhuma kehilangan kalung, akhirnya beliau Radhiyallahu anhuma keluar lagi untuk mencarinya. Saat kembali untuk yang kedua kali inilah, beliau Radhiyallahu anhuma kehilangan rombongan, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan pasukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat. Para shahabat yang menaikkan sekedup itu ke punggung unta tidak menyadari bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma tidak ada di dalamnya karena dia masih ringan.


Beliau Radhiyallahu anhuma tentu gelisah karena ditinggal rombongan, namun beliau Radhiyallahu anhuma tidak kehilangan akal. Beliau Radhiyallahu anhuma tetap menunggu di tempat semula, dengan harapan rombongan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menyadari ketiadaannya dan kembali mencarinya di tempat mereka istirahat. Akan tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang, sampai akhirnya salah shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Shafwân bin al-Mu’atthal as-Sulami lewat di tempat itu dan mengenali ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma , karena Shafwân Radhiyallahu anhu pernah melihat beliau Radhiyallahu anhuma saat sebelum hijab diwajibkan. Shafwân Radhiyallahu anhu kemudian membantu beliau Radhiyallahu anhuma . Shafwân menidurkan untanya agar ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bisa naik unta sementara Shafwân menuntunnya sampai ke Madinah. Sejak bertemu dan selama perjalanan, Shafwân Radhiyallahu anhu tidak pernah mengucapkan kalimat apapun kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma , selain ucapan Innalillah wa Inna Ilaihi Raji’un karena kaget saat mengetahui ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma tertinggal.


Peristiwa ini dimanfaatkan oleh kaum munafik. Mereka membubuhi kisah ini dengan berbagai cerita bohong. Diantara yang sangat berantusias menyebarkan cerita bohong dan keji itu adalah Abdullah bin Ubay Ibnu Salul. Cerita bohong itu menyebar dengan cepat, dari mulut ke mulut, sehingga ada beberapa shahabat yang terfitnah dan tanpa disadari ikut andil dalam menyebarkan berita ini. Mereka adalah Misthah bin Utsâtsah (sepupu Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu), Hassân bin Tsâbit dan Hamnah bintu Jahsy Radhiyallahu anhum.


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedih dengan berita yang tersebar, bukan karena meragukan kesetiaan istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam percaya Aisyah Radhiyallahu anhuma dan Shafwân Radhiyallahu anhu tidak seperti yang digunjingkan. Berita yang sangat menyakiti hati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini memantik kemarahan para shahabat dan hampir saja menyulut pertikaian diantara kaum Muslimin.


Sebagai respon dari berita buruk ini, Sa’ad bin Mu’âdz Radhiyallahu anhu menyatakan kesiapannya untuk membunuh kaum Aus yang terlibat dalam penyebaran berita dusta ini, sementara Sa’ad bin Ubâdah Radhiyallahu anhu tidak setuju dengan sikap Sa’ad bin Mu’adz ini, karena diantara yang tertuduh terlibat dalam penyebaran berita ini berasal dari kaum Sa’ad bin Ubâdah Radhiyallahu anhu. Hampir saja kekacauan yang diinginkan kaum munafik menjadi nyata, namun dengan petunjuk dari Allâh Azza wa Jalla , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tampil menyelesaikan permasalahan ini dan berhasil meredam api kemarahan. Sehingga kaum munafik harus menelan pil pahit kegagalan untuk kesekian kalinya.


AISYAH RADHIYALLAHU ANHUMA SAKIT


Awalnya, Aisyah Radhiyallahu anhuma tidak tahu kalau banyak orang yang sedang menggunjing beliau Radhiyallahu anhuma. Beliau Radhiyallahu anhuma menyadari hal itu, ketika jatuh sakit dan meminta ijin kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tinggal sementara waktu di rumah orang tua beliau yaitu Abu Bakar Radhiyalla anhu. Betapa sakit hati beliau Radhiyallahu anhuma mendengarnya. Sejak saat itu, beliau Radhiyallahu anhuma susah bahkan tidak bisa tidur. Beliau Radhiyallahu anhuma berharap dan memohon agar Allâh Azza wa Jalla memberitahukan kepada nabi-Nya melalui mimpi prihal permasalahan yang sedang dipergunjingkan halayak ramai. Beliau Radhiyallahu anhuma merasa tidak pantas menjadi penyebab turunnya wahyu. Oleh karenanya beliau Radhiyallahu anhuma berharap ada pemberitahuan lewat mimpi kepada nabi-Nya.


PERINGATAN DARI ATAS LANGIT


Sebulan penuh, ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma merasakan kepedihan dan juga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam akibat ulah orang-orang munafik ini. Sampai akhirnya, Allâh Azza wa Jalla menurunkan sepuluh ayat al- Quran prihal berita dusta ini. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :


إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١١﴾ لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ ﴿١٢﴾ لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ ۚ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَٰئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ ﴿١٣﴾ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١٤﴾ إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ ﴿١٥﴾ وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ ﴿١٦﴾ يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴿١٧﴾ وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿١٨﴾ إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿١٩﴾ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ


11. Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu, tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, maka baginya azab yang besar.


12. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) mengatakan, “Ini adalah berita bohong yang nyata.”


13. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu ? Karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu di sisi Allâh adalah orang- orang yang dusta.


14. Sekiranya tidak ada kurnia Allâh dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, akibat pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.


15. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia di sisi Allâh adalah besar.


16. Dan Mengapa kamu diwaktu mendengar berita bohong itu tidak mengatakan, “Kita sama sekali tidak pantas untuk mengucapkan ini, Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.”


17. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.


18. Dan Allâh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allâh Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.


19. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allâh mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.


20. Dan sekiranya bukan karena kurnia Allâh dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allâh Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).

[ an-Nûr/24:11-20]


Dengan turunnya ayat ini, maka permasalahan ini pun menjadi jelas. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma merasa lega. Begitu juga yang dirasakan oleh kaum Muslimin, namun mereka merasa berang dengan orang-orang yang ikut andil dalam mencoreng nama baik ummul Mukminin. Abu Bakar as-shiddiq Radhiyallahu anhu tersulut emosinya ketika tahu bahwa Misthah bin Utsâtsah, sepupu beliau Radhiyallahu anhu yang selama ini dibantu ekonominya ternyata ikut andil dalam menyebarkan berita yang telah melukai hati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh kaum Muslimin ini. Bahkan sampai beliau Radhiyallahu anhu bersumpah untuk tidak akan membantunya lagi. Lalu turunlah firman Allâh Azza wa Jalla :


وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allâh mengampunimu? dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [an-Nûr/24: 22]


Akhirnya Abu Bakar Radhiyallahu anhu membantu Misthah kembali karena mengharap ampunan dari Allâh Azza wa Jalla .


Dalam ayat-ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla mencela mereka yang terperangkap dalam jebakan orang-orang munafik dan memuji kaum Mukminin yang tidak termakan isu ini dan menyikapinya dengan bijak sembari menyakini kedustaan berita ini. Diantara yang tersanjung dengan ayat ini adalah Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu. Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits yang memberitakan bahwa salah shahabat Rasûlullâh dari kaum Anshar saat mendengar berita ini, beliau Radhiyallahu anhu mengatakan :


Kita sama sekali tidak pantas untuk mengucapkan ini, Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar [HR. Bukhari, al Fath, 28/110, no. 7370]


Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa orang ini adalah Abu Ayyub Radhiyallahu anhu.


Setelah perkara ini menjadi jelas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menuntaskannya dengan memberikan sanksi kepada mereka yang terlibat.


PELAJARAN DARI KISAH DI ATAS


1. Menyebarkan berita dusta merupakan salah satu metode kaum munafik dan musuh Islam untuk menyerang agama ini. Kisah di atas dan kisah sebelumnya (pada edisi 10) menunjukkan hal ini. Maka hendaknya kaum Muslimin mengambil pelajaran dari kisah ini ! Terutama saat mendengar berita-berita yang mencederai nama kaum Muslimin dan menyikapinya dengan bijak.


2. Peristiwa ini menunjukkan kenabian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerima wahyu dari Allâh Azza wa Jalla . Seandainya al-Qur’an itu buatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tuduhan orang-orang kafir, tentu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan membiarkan berita ini berlarut-larut. Namun fakta menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggu wahyu dari Allâh Azza wa Jalla


3. Kisah di atas juga menunjukkan syari’at penegakan had qadzf (sanksi karena menuduh) kepada orang yang terbukti telah menuduhkan perbuatan keji kepada kaum Muslimin yang menjaga kehormatan mereka


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV/1431H/2010].

_______

Sumber: Diangkat dari as-Siratun Nabawiyah Fi Dhau’il Mashâdiril Ashliyah, Doktor Mahdi Rizqullah Ahmad.


Artikel: https://almanhaj.or.id/4078-berita-dusta.html



•┈┈┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈┈┈•


*✍🏻Reposted by  : ☘️ADMIN ☘️*

KENAPA MESTI MALU BERISTIGHFAR???

 ﷽

┏ □■□ ━━━━━━━

Saudaraku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Alloh, diantara bukti liciknya syaitan dalam mengganggu kita adalah beragamnya cara mereka untuk menyesatkan kita, salah satunya dengan memutarbalikkan perasaan; yakni malu dalam ketaatan.


⚉ Jika kita perhatikan, tidak banyak orang yang ber-istighfar saat berada di lampu merah, saat antri di pom bensin, atau saat antri CS di Bank, mayoritas sibuk dengan gadgetnya. Padahal istighfar tidak membutuhkan banyak effort untuk melafalkannya. Apa sebabnya? Apa karena kesadaran istighfar yang minim? Tidak tau keutamaan istighfar? Atau malu saat beristighfar lalu dilihat orang? Semua pilihan sangat mungkin, namun bahasan kita kali ini adalah malu dalam beristighfar.


Dalam salah satu Atsarnya, Hasan Al-Bashri rohimahulloh pernah ditanya oleh seseorang


ألا يستحيي أحدُنا من ربه يستغفِرُ من ذنوبه، ثم يعود، ثم يستغفر، ثم يعود


“Apakah salah seorang dari kita tidak malu kepada Alloh, ia beristighfar atas dosa-dosanya lalu ia kembali lagi berdosa lalu istighfar lagi, lalu berdosa lagi?”


Maka Hasan Al-Bashri menjawab :


 ودَّ الشيطانُ لو ظَفِرَ منكم بهذه، فلا تملُّوا من الاستغفار


“Syaitan berangan-angan kalau bisa menjatuhkan kalian kepada perasaan malu seperti ini, maka janganlah kalian bosan untuk terus beristighfar”


(Jamiul Uluum wal Hikam 2/485)


Saudaraku, kenapa mesti malu beristighfar? Bukankah kita semua adalah pendosa, hamba yang berbuat salah? Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda


كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ


“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” [HR Ibnu Majah 4241]


⚉ Jadi untuk apa malu bertaubat? Toh berbuat salah adalah fithroh manusia, syari’at pun telah memberi solusinya dengan bertaubat, dan salah satu bentuknya istighfar.


Sungguh aneh jika ada diantara kita yang malu beristighfar, padahal secara fithroh mayoritas dari kita semua pasti menginginkan 3 hal;


1. Ingin diampuni dari dosa dan kesalahan yang berujung siksa neraka.

2. Ingin selamat dari adzab atau musibah yang menyebabkan kesulitan di dunia.

3. Serta ingin kejayaan atau kekuatan yang bisa dinikmati di dunia


Dan semua hal itu bisa didapat dengan istighfar, Alloh mengatakan dalam surat Ali Imron tentang Istighfar yang menjadi sebab pengampunan dosa;


وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ


“Dan orang-orang yang, apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri, mengingat Alloh lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Alloh?” (QS Ali ‘Imran 135)


Dalam ayat lain Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,


وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا.


“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Alloh, niscaya ia mendapati bahwa Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS An-Nisa` 110)


Istighfar juga yang menghindarkan Hamba dari adzab atau musibah, Alloh berfirman dalam surat Al-Anfal;


وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.


“Alloh tidak akan meng-adzab mereka, sedang mereka dalam keadaan beristighfar” (QS Al-Anfal 33)


Dan dengan Istighfar pula lah Alloh akan memberi tambahan kekuatan atau kejayaan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ucapan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya dalam surat Hud,


وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ


“Wahai kaumku, beristighfarlah kepada Robb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian dan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian” (QS Hud 52)


Maka jelaslah saudaraku… Betapa bodohnya kita jika enggan atau malu untuk beristighfar padahal didalamnya terdapat kebaikan yang besar. Sungguh syari’at telah memberi porsi yang luar biasa dalam keutamaan istighfar, Alloh menghimpun keutamaan istighfar dalam urusan dunia pada Surat Nuh;


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً


 “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Robb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit (Rahmat). Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu (Kekayaan), juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu (Keberkahan)” (QS Nuh 10-12)


Dalam Hadits Abdulloh Ibnu ‘Abbas Juga disebutkan


مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


“Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Alloh memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka olehnya”  [HR Ahmad 2123]


⚉ Karenanya saudaraku.. Beristighfarlah dimanapun, di lampu merah, di kendaraan, atau di antrian apapun itu, dan jangan malu.

MMAPUKAN KITA MEMAAFKAN KETIKA DISAKITI???

Di saat ada orang lain yang memaki anda, biasanya anda terpancing untuk balas memakinya. Disaat anda orang yang mlengos di depan anda, andapun biasanya membalasnya dengan yang serupa atau bahkan lebih keras dari yang dia lakukan. Di saat anda orang yang memusuhi anda, menjelek-jelekkan anda, biasanya anda tergoda untuk melakukan hal yang serupa atau bahkan lebih.


Namun pernahkan terbetik di hati anda rasa iba kepada orang yang berbuat jahat kepada anda tersebut? Pernahkah anda berkeinginan untuk memberinya hadiah krn dia telah menghina, memaki, memusuhi anda?


Alih-alih hadiah, sekedar mengucapkan salam ketika berjumpa dengannya, atau mungkin berkunjung ke rumahnya saja mungkin terlalu berat untuk anda lakukan. Karena itu wajar bila kondisi buruk ini terus berkepanjangan bahwa terwariskan kepada anak cucu kita.


Saudaraku, simaklah kiat manjur berikut agar kondisi negatif di atas dapat berubah menjadi positif secepatnya.


🪶▪️ *Allah berfirman*


وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ


 _"Tentu tidaklah sama antara kebajikan dengan kejahatan. Balaslah dengan cara- cara yang lebih baik, niscaya dalam sekejap antara dirimu dan orang yang memusuhimu akan terjalin hubungan baik, seakan-akan dia adalah pembelamu yang paling setia”_ 

*(QS. Fusshilat: 34).*


Memang terasa berat, dimusuhi malah memaafkan bahkan memberinya hadiah. Di plengosi malah tersenyum dan mengucapkan salam kepadanya. Namun percayalah bahwa sejatinya itu tidaklah sulit bila kita memiliki jiwa yang besar hati yang lebar. Adanya rasa berat, sejatinya adalah bukti betapa kerdilnya jiwa kita. 


🪶▪️Karena itu setelah ayat di atas *Allah berfirman :*


وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ


 _"Sikap itu tidaklah dikaruniakan kecuali kepada orang-orang yang bersabar dan tidaklah dikatuniakan kecuali kepada orang- orang yangdapat keberuntungan besar”_ 

*( QS. Fusshilat: 35).*


Marilah kita belajar menjadi orang-orang yang berjiwa besar, walau tubuh kita kecil, agar kita beruntung besar.


Penulis: Ustadz DR. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.


Artikel Muslim.Or.Id


repost : by admin


......  🍀🍁

APA SAJA YANG BOLEH DILAKUKAN DALAM SHOLAT???

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

.

*⚉ SEBATAS MENGGARIS TIDAK MENCUKUPI DALAM SUTROH*

.

Karena tidak ada satupun hadits yang shahih, adapun hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

.

“apabila salah seorang dari kalian sholat hendaklah menjadikan sesuatu dihadapannya, apabila tidak mendapatkan apa apa hendaklah ia mendirikan tongkat, jika tidak ada tongkat maka hendaklah ia menggaris dan tidak membahayakan orang yang lewat dihadapannya..”

.

Hadits tersebut DHO’IF dan banyak para ulama mendho’ifkan hadits tsb dan diantaranya Syaikh Al Bani dan yang lainnya. Demikian pula di dho’ifkan pula oleh Sufyan bin Uyainah, Imam Syafi’i, Imam Al Baghawi dan yang lainnya. Imam Malik berkata bathil.

.

Maka sutroh yang paling pendek yaitu setinggi pelana unta yaitu sekitar 30 cm. Sebagaimana telah disebutkan hadits yang telah lewat dimana Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ketika menyebutkan tentang hal hal yang memotong/memutuskan sholat seseorang Nabi menyebutkan sutroh itu hendaknya setinggi pelana unta.

.

*⚉ APA SAJA YANG BOLEH DILAKUKAN DALAM SHOLAT*

.

Kemudian Nabi menyebutkan apa saja yang boleh dilakukan dalam sholat yaitu ;

.

*_1️⃣  Menangis_*

Ini berdasarkan Abdullah bin Syakhir ia berkata,

.

“Aku melihat Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam sholat sementara di dadanya terdengar bagaikan air yang mendidih karena menangis..”

[HR. Imam Abu Daud, Nasa’i dan Khuzaimah]

.

*_2️⃣  Menengok, demikian pula berisyarat karena dibutuhkan._* Berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam dari Jabir, ia berkata,

.

“bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah sholat dalam keadaan beliau sedang sakit dan beliau sholat dalam keadaan duduk dan Abu Bakar memperdengarkan kepada manusia takbirnya, lalu Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menengok kepada kami dan melihat kami berdiri maka beliaupun memberi isyarat kepada kami agar duduk maka kamipun duduk..” [HR. Muslim]

.

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menengok untuk keperluan, adapun jika tidak ada keperluan maka itu dianggap sebagai copetan setan, sebagaimana dalam hadits bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam ditanya oleh 'Aisyah tentang menengok dalam sholat maka Nabi bersabda,

.

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الاِلْتِفَاتِ فِي الصَّلاَةِ ؟ فَقَال : هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ

.

“Itu adalah copetan dari copetan-copetan setan dari sholatnya seorang hamba..” [HR Bukhori]

.

*_3️⃣  Membunuh kalajengking, ular, atau binatang yang berbahaya saat sholat._* Berdasarkan hadits Abu Hurairoh

.

اقتلوا الاسودين في الصلات الحية والعقرب

.

“Bunuhlah dua yang hitam dalam sholat yaitu ular dan kalajengking..” [HR Abu Daud]

.

*_4️⃣ Berjalan sedikit untuk keperluan._* Berdasarkan hadits 'Aisyah adalah,

.

“Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sholat dan pintu terkunci lalu aku datang meminta untuk dibukakan pintu, maka beliaupun berjalan dan membuka pintu kemudian kembali lagi ketempat sholatnya..” [HR Imam Abu Daud]

.


*⚉ PERKARA YANG DIMUBAHKAN / BOLEH DILAKUKAN OLEH ORANG YANG SEDANG SHOLAT*


*€5️⃣ Menggendong anak jika dibutuhkan._* Berdasarkan hadits Abu Qotadah Al Anshori ,

.

“Bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah sholat dalam keadaan menggendong Umamah bintu Zainab bintu Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam apabila beliau hendak sujud beliau letakkan, apabila beliau berdiri beliau kembali menggendongnya..” [HR Bukhori dan Muslim]

.

Dalam suatu riwayat beliau menggendongnya di lehernya.

.


*_6️⃣  Boleh mengucapkan salam kepada orang yang sedang sholat dan orang yang sholat menjawabnya dengan isyarat dan boleh juga kita bertanya kepada orang yang sholat dan orang yang sholat boleh menjawab dengan isyarat._*

.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir, “bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mengutusku untuk sebuah keperluan, kemudian aku mendapati Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sedang sholat lalu aku mengucapkan salam kepada beliau maka beliaupun memberikan isyarat (menjawab dengan isyarat).” (HR Imam Muslim dalam shohihnya)

.

Demikian juga dengan hadits Shuhaib bahwa, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sedang sholat dan Shuhaib mengucapkan salam kepada beliau maka beliaupun menjawabnya dengan isyarat.” [HR Abu Daud]

.

*_7️⃣  Bertasbih untuk laki-laki dan bertepuk tangan untuk wanita ketika mengingatkan imam._* Berdasarkan hadits Sahl bin Sa’ad, bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“wahai manusia apabila terjadi sesuatu dalam sholat, kalian bertepuk tangan padahal bertepuk tangan itu untuk wanita saja, siapa terjadi sesuatu dalam sholatnya dan ingin diingatkan maka ucapkan subhanallah.” [HR Imam Bukhori dan Muslim]

.

*_8️⃣  Boleh mengingatkan imam yang lupa._* Sebagaimana dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa, “Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah sholat kemudian beliau lupa ketika setelah selesai sholat Rosulullah bersabda kepada Ubay, “apakah engkau tadi sholat bersama kami ?” Kata Ubay, “iya ya Rosulullah,” Kata Rosulullah. “kenapa kamu tidak mengingatkan aku ?” [HR Imam Abu Daud]

.

Hadits menunjukkan boleh seorang makmum membetulkan atau mengingatkan imam ketika lupa dalam sholatnya.

.

*_9️⃣  Imam mundur atau maju kedepan karena untuk perkara yang dibutuhkan._* Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik bahwa, “kaum muslimin di subuh hari senin, waktu itu Abu Bakar sebagai imam ternyata Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam membuka tirai kamarnya ‘Aisyah dan melihat kepada para sahabatnya sedang bershof, melihat itu Abu Bakar pun kemudian mundur karena beliau mengira Rosulullah akan keluar untuk menjadi imam sholat..” [HR Bukhori dalam shahihnya]

.

*_1️⃣0️⃣  Membersihkan kerikil yang menempel didahi saat sujud._* Sebagaimana disebutkan dalam hadits Mu’aiqib bahwa, “Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada seorang laki laki yang meratakan tanah ketika sujud maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “kalau kamu melakukan itu cukup sekali saja..” [HR Bukhori dan Muslim]

.

*_1️⃣1️⃣  Bolehnya kita menghamparkan baju untuk sujud diatasnya karena panas misalnya_*, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik bahwa, “kami bersama Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam dalam panas yang sangat sehingga salah seorang dari kami tidak mampu untuk sujud di bumi, maka merekapun menghamparkan bajunya dan sujud diatasnya..” [HR Bukhori dalam shahihnya]

.

*_1️⃣2️⃣  Mencegah orang yang hendak lewat didepannya._* Sebagaimana hadits yang telah lewat juga dimana Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menyuruh untuk kita mencegah orang yang hendak lewat didepan sholat kita.

.

.

.

Wallahu a’lam 🌻

.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

.

Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى

.

.

Simak audionya di artikel berikut: https://bbg-alilmu.com/archives/44610

[24/6 12:59] De Tari 2: *🍀 APA SAJA YANG BOLEH DILAKUKAN DALAM SHOLAT 🍀*

.

PART 2

.

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

.

Kita lanjutkan fiqihnya.. kemudian diantara..

.

⚉ PERKARA YANG DIMUBAHKAN / BOLEH DILAKUKAN OLEH ORANG YANG SEDANG SHOLAT

.

.

5️⃣  Membawa/menggendong anak ketika sedang sholat sebagaimana dalam hadits Abu Qotadah Al Anshori bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah sholat dalam keadaan menggendong Umamah bintu Zainab bintu Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam. [HR Bukhori dan Muslim]

.

6️⃣  Boleh mengucapkan salam kepada orang yang sedang sholat dan orang yang sholat menjawabnya dengan isyarat dan boleh juga kita bertanya kepada orang yang sholat dan orang yang sholat boleh menjawab dengan isyarat.

.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir, “bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mengutusku untuk sebuah keperluan, kemudian aku mendapati Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sedang sholat lalu aku mengucapkan salam kepada beliau maka beliaupun memberikan isyarat (menjawab dengan isyarat).” (HR Imam Muslim dalam shohihnya)

.

Demikian juga dengan hadits Shuhaib bahwa, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sedang sholat dan Shuhaib mengucapkan salam kepada beliau maka beliaupun menjawabnya dengan isyarat.” [HR Abu Daud]

.

7️⃣  Bertasbih untuk laki-laki dan bertepuk tangan untuk wanita ketika mengingatkan imam. Berdasarkan hadits Sahl bin Sa’ad, bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“wahai manusia apabila terjadi sesuatu dalam sholat, kalian bertepuk tangan padahal bertepuk tangan itu untuk wanita saja, siapa terjadi sesuatu dalam sholatnya dan ingin diingatkan maka ucapkan subhanallah.” [HR Imam Bukhori dan Muslim]

.

8️⃣  Boleh mengingatkan imam yang lupa. Sebagaimana dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa, “Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah sholat kemudian beliau lupa ketika setelah selesai sholat Rosulullah bersabda kepada Ubay, “apakah engkau tadi sholat bersama kami ?” Kata Ubay, “iya ya Rosulullah,” Kata Rosulullah. “kenapa kamu tidak mengingatkan aku ?” [HR Imam Abu Daud]

.

Hadits menunjukkan boleh seorang makmum membetulkan atau mengingatkan imam ketika lupa dalam sholatnya.

.

9️⃣  Imam mundur atau maju kedepan karena untuk perkara yang dibutuhkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik bahwa, “kaum muslimin di subuh hari senin, waktu itu Abu Bakar sebagai imam ternyata Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam membuka tirai kamarnya ‘Aisyah dan melihat kepada para sahabatnya sedang bershof, melihat itu Abu Bakar pun kemudian mundur karena beliau mengira Rosulullah akan keluar untuk menjadi imam sholat..” [HR Bukhori dalam shahihnya]

.

1️⃣0️⃣  Membersihkan kerikil yang menempel didahi saat sujud. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Mu’aiqib bahwa, “Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada seorang laki laki yang meratakan tanah ketika sujud maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “kalau kamu melakukan itu cukup sekali saja..” [HR Bukhori dan Muslim]

.

1️⃣1️⃣  Bolehnya kita menghamparkan baju untuk sujud diatasnya karena panas misalnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik bahwa, “kami bersama Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam dalam panas yang sangat sehingga salah seorang dari kami tidak mampu untuk sujud di bumi, maka merekapun menghamparkan bajunya dan sujud diatasnya..” [HR Bukhori dalam shahihnya]

.

1️⃣2️⃣  Mencegah orang yang hendak lewat didepannya. Sebagaimana hadits yang telah lewat juga dimana Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menyuruh untuk kita mencegah orang yang hendak lewat didepan sholat kita.

.

.

Wallahu a’lam 🌻

.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

.

Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى



•┈┈┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈┈┈•


*✍🏻Reposted by  : ☘️ADMIN ☘️*

SAAT DITIPU ORANG LAIN

 

*Mungkin Anda akan marah, jengkel, susah tidur karena pikiran yang sangat terganggu.*

*Jika Anda seorang mukmin yang kuat, harusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi .. harusnya pikiran Anda tetap tenang dan santai, karena beberapa alasan berikut ini:*

*1. Hakmu tidak akan hilang.*

*Karena kalau Anda merelakan harta itu untuk penipu, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak .. sedang, kalau Anda tidak merelakannya, maka Anda bisa menuntutnya di akherat nanti sesuai kadarnya .. hak Anda tetap terjaga dengan baik.*

*2. Perbuatan dia tidak akan mengurangi jatah rezekimu.*

*Saat Anda ditipu oleh seseorang, sebenarnya memang saat itulah waktu Anda menikmati rezeki itu telah selesai, sehingga rezeki itu memang harus diambil dari Anda.*

*3. Bahkan Anda bisa mendapatkan do’a yang mustajab.*

*Karena ketika Anda ditipu, berarti Anda dizalimi, dan do’anya orang yang dizalimi itu mustajab, karena tidak adanya hijab antara do’anya dengan Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits.*

*Dan tidak ada masalah kita mend’oakan keburukan kepada orang yang menzalimi kita, sebagaimana dilakukan oleh beberapa sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ketika dizalimi orang lain.*

*4. Anda bisa mendapatkan pahala, penghapus dosa, dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, bila Anda bisa menghadapinya dengan sabar dan rela atas takdir Allah tersebut .. sehingga sebenarnya ketika sedang ditipu, Anda diberi peluang mendapatkan ganti yang jauh lebih baik.*

*5. Ingatlah bahwa itu merupakan takdir yang memang dikehendaki Allah terjadi ..*
*Anda marah atau rela, tetap saja harus terjadi, dan tidak mungkin bisa dihindari.*

*Jika semua ini Anda tahu, tanyakan kepada diri Anda, mengapa saya harus marah dan jengkel ..*

*bukankah lebih baik saya melupakannya dan memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat untuk masa yang akan datang.*

*Ditulis oleh,*
*📝Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى*

*Demikianlah faedah yang ringkas ini semoga bisa menjadi tuntunan akhlak dan sebagai keteladanan yang bermanfaat bagi kita semua.*

*Selamat beraktivitas*
*Semoga apa yang kita lakukan bisa bernilai ibadah di sisi Allah ﷻ*
آمين يارب العالمين  

┗━━━━━🌺☘️━━━━━☘️━━━ ●●🌺┛


POTONGAN RAMBUT BERGAYA MILITER

Au'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Pak Ustadz, saya menyukai potongan rambut bergaya militer, seperti model TNI. Akan tetapi, saya ragu kalau saja potongan itu adalah Qaza'. Apakah potong rambut model tamtama TNI (cepak dengan semi gundul di samping) merupakan Qaza'? Terima Kasih Banyak, Pak Ustadz Jazakallahu khairan....

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kami tidak tahu persis gambaran model rambut yang penanya tanyakan namun secara umum kami sarankan kepada penanya supaya bila mencukur rambut tidak mencukur sebagian kepala kemudian bagian yang lain tidak dicukur. Apabila menipiskan rambut maka saran kami jangan menipiskan sebagian rambut kepala kemudian membiarkan bagian lain tidak ditipiskan.  

Syaikh Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqiti menerangkan:Barang siapa memendekkan ujung rambutnya kemudian rambut tengah kepala sengaja di bikin lebat maka ini tercakuo dalam larangan ini karena ada unsur meniru-niru orang yang rusak. Sebagian Ulama' rahimahumullah mengisyaratkan itu. Dulu kami mengetahui ulama' ulama' awal dulu rahimahumullah sangat keras sikapnya terhadap penipisan sebagian rambut tanpa yang lain. Mereka dulu menganggap itu termasuk qaza'. Mereka mengatakan: Engkau menipiskan semuanya atau mencukur semuanya. Inilah hukum asal yang diamalkan oleh para Ulama'. Selesai dari Syarh Zad al-Mustaqni'

Hadits yang disinggung oleh syaikh adalah hadits yang ada di dua kitab shahih (Bukhori dan Muslim) dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن القزع. أن يُحْلَقَ رأس الصبي ويترك بعض شعره

“Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam melarang tentang Qaza’. Yaitu mencukur rambut anak dan meninggalkan sebagian rambutnya.

Dari beliau (Ibnu Umar radhiallahu anhuma) sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam melihat anak dipotong sebagian rambutnya dan meninggalkan sebagian lainnya. Maka beliau melarang akan hal itu. Seraya bersabda, “Cukurlah semuanya atau biarkan semuanya."

HUKUM MENGIRIM KARANGAN BUNGA SEBAGAI TANDA DUKA CITA


 ❓ *Tanya*

*Bismillah... Afwan Ustadz*

💐❓ Bagaimana hukumnya mengirim karangan bunga sbg tanda duka cita kpd klrg ahlul kubur yg beragama Islam atau non muslim mhn penjelasan dan sarannya Ustadz
Syukron jazaakallahu khayran
➖➖➖➖➖➖➖

📌💥 *Jawab*

Afwan baru sempat jawab...

🌹🍃  *Mengirim karangan bunga bagi mayit, baik itu mayit muslim,* *apalagi non muslim, maka hukumnya - sejauh yang saya ketahui dan fahami - adalah tidak boleh, setidaknya dibenci (makruh) jika tdk mau dikatakan haram.*
*Alasannya :*

🌷🍃 *Takziyah itu bagian dari ibadah yang sepatutnya kita meniru cara Nabî dalam bertakziyah. Sedangkan Nabî tdk pernah bertakziyah dg mengirimkan bunga padahal di zaman beliau ada bunga. Demikian  pula dg para sahabat. Karena itu, perbuatan ini berpotensi masuk ke dalam amaliyah bid'ah.*

🌻🍂 *Mengirimkan karangan bunga itu bukan merupakan kebiasaan Islâm, namun kebiasaan orang kafir. Karena itu hal ini termasuk perbuatan tasyabbuh* *(meniru²) perbuatan orang kafir yang dilarang Nabî.*

🌸🌱 *Keluarga mayit tdk lah butuh dg karangan bunga atau yg semisal. Bahkan, karangan tsb cenderung menjadi sampah tdk berguna yg hanya menghabiskan tempat. Sehingga tdk malah membantu, namun malah menyusahkan.*

🌼☘️ *Karangan bunga itu tdk murah dan tdk begitu berguna, sehingga perbuatan ini termasuk tabdzîr atau membuang² harta.*

🌺🍀 *Seringkali dalam karangan bunga dituliskan kata fihak yg mengirimkan, seperti "yang turut berduka cita, Fulan." Perbuatan seperti ini berpotensi melahirkan rasa pamer, ingin dilihat (riya') atau ingin didengar (sum'ah). Bahkan bisa jadi menimbulkan rasa sombong, berbangga diri dan melampaui batas lantaran ingin menunjukkan status dan strata sosial.*
*Dll.*

Wallâhu a'lam

KISAH ORANG SHALIH/SHALIHAH

*AL-IMAM ADZ-DZAHABI(673-784 H)*

*Nama dan Nasabnya*

*_Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi. Beliau berasal dari negara Turkumanistan, dan Maula Bani Tamim._*


*Kelahirannya*

*_Beliau dilahirkan pada tahun 673 H di Mayyafariqin Diyar Bakr. Ia dikenal dengan kekuatan hafalan, kecerdasan, kewara’an, kezuhudan, kelurusan aqidah dan kefasihan lisannya._*


*Guru-gurunya*

*_Beliau menuntut ilmu sejak usia dini dan ketika berusia 18 tahun menekankan perhatian pada dua bidang ilmu: Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadits Nabawi. Beliau menempuh perjalanan yang jauh dalam mencari ilmu ke Syam, Mesir, dan Hijaz (Mekkah dan Madinah). Beliau mengambil ilmu dari para ulama di negeri-negeri tersebut._ *


*Diantara para ulama yang menjadi guru-guru beliau adalah:*

_1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah_

*_Yang beliau letakkan namannya paling awal di deretan guru-guru yang memberikan ijazah pada beliau dalam kitabnya, Mu’jam asy-Syuyukh._* *Beliau begitu mengagumi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan mengatakan, _“Dia lebih agung jika aku yang menyifatinya. Seandainya aku bersumpah di antara rukun dan maqam maka sungguh aku akan bersumpah bahwa mataku belum pernah melihat yang semisalnya. Tidak…-Demi Allah- bahkan dia sendiri belum pernah melihat yang semisalnya dalam hal keilmuan.”_* *(Raddul Wafir , hal. 35)*

_2. Al-Hafizh Jamaluddin Yusuf bin Abdurman al-Mizzi_

*Yang dikatakan oleh beliau, _“Dia adalah sandaran kami jika kami menemui masalah-masalah yang musykil.”_* *(ad-Durar al-Kaminah,V:235)*

_3. Al-Hafizh Alamuddin Abdul Qasim bin Muhammad al-Birzali_

*Yang menyemangati beliau dalam belajar ilmu hadits, beliau mengatakan tentangnya: _“Dialah yang menjadikanku mencintai ilmu hadits.”_* *(ad-Durar al-Kaminah, III:323)*


*_Ketiga ulama diatas adalah yang banyak memberikan pengaruh terhadap kepribadian beliau._*

*_Adapun guru-guru beliau yang lainnya adalah:_* 

_1. Umar bin Qawwas_ 

_2. Ahmad bin Hibatullah bin Asakir_ 

_3. Yusuf bin Ahmad al-Ghasuli_ 

_4. Abdul Khaliq bin Ulwan_ 

_5. Zainab bintu Umar bin Kindi_ 

_6. al-Abuqi_

_7. Isa bin Abdul Mun’im bin Syihab_

_8. Ibnu Daqiqil ‘Id_ 

_9. Abu Muhammad ad-Dimyathi_ 

_10. Abul abbas azh-Zhahiri_ 

_11. ali bin Ahmad al-Gharrafi_ 

_12. Yahya bin ahmad ash-Shawwaf_ 

_13. at-Tauzari_

_Masih banyak lagi yang lainnya._


*_Al-Imam adz-Dzahabi memiliki Mu’jam asy-Syuyukh (Daftar Guru-Guru) beliau yang jumlahnya mencapai 3000-an orang (adz-Dzahabi wa Manhajuhu fi Kitabihi, Tarikhil Islam)_*


*Murid-Muridnya*

*_Di antara murid beliau adalah:_* 

_1. Tajuddin as-Subki_

_2. Muhammad bin Ali al-Husaini_

_3.al-Hafizh Ibnu kasir_ 

_4. al-Hafizh Ibnu Rajab_ 

_dan masih banyak lagi selain mereka._


*Pujian Para Ulama Kepada Beliau*

*Al-Imam Ibnu Nashruddin ad-Dimasyqi berkata, _“Beliau adalah Ayat (tanda kebesaran Allah-red) dalam ilmu rijal, sandaran dalam jarh wa ta’dil (ilmu kritik hadits-red) lantaran mengetahui cabang dan pokoknya, imam dalam qiraat, faqih dalam pemikiran, sangat paham dengan madzhab-madzhab para imam dan para pemilik pemikiran, penyebar sunnah dan madzhab salaf di kalangan generasi yang datang belakangan.”_* *(Raddul Wafir, hal. 13)* 

*Ibnu Katsir berkata, _“Beliau adalah Syaikh al-Hafizh al-kabir, Pakar Tarikh Islam, Syaikhul muhadditsin ……beliau adalah penutup syuyukh hadits dan huffazhnya.”_* *(al-Bidayah wa an-Nihayah, XIV:225)*

*Tajuddin as-Subki berkata, _“Beliau adalah syaikh Jarh wa Ta’dil, pakar Rijal, seakan-akan umat ini dikumpulkan di satu tempat kemudian beliau melihat dan mengungkapkan seja mereka.”_* *(Thabaqah Syafi’iyyah Kubra, IX:101)*

*an-Nabilisi berkata, _“Beliau pakar zamannya dalam hal perawi dan keadaaan-keadaan mereka, tajam pemahamannya, cerdas, dan ketenarannya sudah mencukupi dari pada menyebutkan sifat-sifat nya.”_* *(ad-Durar al-Kaminah, III:427)*

*Ash-Shafadi berkata, _“Beliau seorang hafizh yang tidak tertandingi, penceramah yang tidak tersaingi, mumpuni dalam hadits dan rijalnya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang ‘illah dan keadaan-keadaannya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang biografi manusia. Menghilangkan ketidakjelasan dan kekaburan dalam seja manusia. Beliau memiliki akal yang cerdas, benarlah nisbahnya kepada dzahab (emas). Beliau mengumpulkan banyak bidang ilmu, memberi manfaat yang banyak kepada manusia, banyak memiliki karya ilmiah, lebih mengutamakan hal yang ringkas dalam tulisannya dan tidak berpanjang lebar. Aku telah bertemu dan berguru kepadanya, dan membaca banyak dari tulisan-tulisannya di bawah bimbingannya. Aku tidak menjumpai padanya kejumudan, bahkan dia adalah faqih dalam pandangannya, memiliki banyak pengetahuan tentang perkataan-perkataan ulama, madzhab-madzahab para imam salaf dan para pemilik pemikiran.”_* *(al-Wafi bil Wafayat, II:163)*


*Di Antara Perkataan-Perkataan Beliau*

*Al-Imam adz-Dzahabi berkata, _“Tidak sedikit orang yang memusatkan perhatiannya pada ilmu kalam melainkan ijtihadnya akan membawanya kepada perkataan yang menyelisihi Sunnah. Karena itulah ulama salaf mencela setiap yang belajar ilmu-ilmu para umat sebelum Islam. Ilmu kalam turunan dari ilmu para filosof atheis. Barangsiapa yang sengaja ingin menggabungkan ilmu para nabi dengan ilmu para ahli filsafat dengan mengandalkan kecerdasannya maka pasti dia akan menyelisihi para nabi dan para ahli filsafat. Dan barangsiapa yang berjalan di belakang apa yang dibawa oleh para rasul …..maka sungguh dia telah menempuh jalan salaf dan menyelamatkan agma dan keyakinannya.”_* *(Mizanul I’tidal, III:144)*

*Beliau menukil perkataan ma’mar, _“Dahulu dikatakan bahwa seseorang menuntut ilmu untuk selain Allah maka ilmu itu enggan hingga semata-mata untuk Allah.” Kemudian beliau mengomentari perkataan ma’mar tersebut dengan mengatakan, “Ya, dia awalnya menuntut ilmu atas dorongan kecintaan kepada ilmu, agar menghilangkan kejahilannya, agar mendapat pekerjaan, dan yang semacamnya. Dia belum tahu tentang wajibnya ikhlas dalam menuntutnya dan kebenaran niat di dalamnya. Maka jika sudah mengetahuinya, dia hisab dirinya dan takut terhadap akibat buruk dari niatnya yang keliru, maka datanglah kepada niat yang shahih semuanya atau sebagiannya. Kadang dia bertaubat dari niatnya yang keliru dan menyesal. Tanda atas hal itu ialah bahwasanya dia mengurangi dari klaim-klaim, perdebatan, dan perasaan memiliki ilmu yang banyak, dan dia hinakan dirinya. Adapun jika dia merasa banyak ilmunya atau mengatakan “saya lebih berilmu dari pada Fulan; maka sungguh celakalah dia.”_* *(Siyar A’lamin Nubala’ , VII:17)*

*Beliau berkata, _“Yang dibutuhkan oleh seorang hafizh adalah hendaknya bertakwa, cerdas, mahir Nahwu, mahir ilmu bahasa, memiliki rasa malu dan bermanhaj salaf.”_* *(Siyar, XIII:380)*

*Beliau berkata, _“Ahli hadits sekarang hendaknya memperhatikan kutubs sittah, musnad Ahamd dan Sunan Baihaqi. Dan hendaknya teliti terhadap matan-matan dan sanad-sanadnya, kemudian tidak mengambil manfa’at dari hal itu hingga dia bertakwa kepada Rabbnya dan menjadikan hadits sebagai dasar agama. Kemudian ilmu bukanlah dengan banyak riwayat, tetapi dia adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati dan syaratnya adalah ittiba’ (mengikuti nabi Shallallahu alaihi wassalam-red) dan menjauhkan diri dari hawa nafsu dan kebid’ahan.”_* *(Siyar, XIII:323)*

*Beliau berkata, _“Kebanyakan ulama pada zaman ini terpaku dengan taqlid dalam hal furu’, tidak mau mengembangkan ijtihad, tenggelam dalam logika-logika umat terdahulu dan pemikiran ahli filsafat. Dengan demikian, bencana pun meluas, hawa nafsu menjadi hukum dan tanda-tanda tercabutnya ilmu semakin nampak. Semoga Allah memati seseorang yang mau memperhatikan kondisi dirinya, menjaga ucapannya, selalu membaca al-Qur’an, menangis atas kejadian zaman, memperhatikan kitab ash-Shahihain dan beribadah kepada Allah sebelum ajal datang secara tiba-tiba.”_* 

*(Tadzki al-Huffazh, II:530)*


*Karya-Karyanya*

_Beliau memiliki sekitar 100 karya tulis, di antara karya-karya tulis itu adalah:_

*a. _al-‘Uluww lil ‘Aliyyil Ghaffar_*

*b. _Taariikhul Islam_*

*c. _Siyar A’laamin Nubalaa’_*

*d. _Mukhtashar Tahdziibil Kamaal_*

*e. _Miizaanul I’tidaal Fii Naqdir Rijaal_*

*f. _Thabaqatul Huffazh_*

*g. _Al-Kaasyif Fii Man Lahu Riwaayah Fil Kutubis Sittah_*

*h. _Mukhtashar Sunan al-Baihaqi_*

*i. _Halaqatul Badr Fii ‘Adadi Ahli Badr_*

*j. _Thabaqatul Qurra’_*

*k. _Naba’u Dajjal_*

*l. _Tahdziibut Tahdziib_*

*m. _Tanqiih Ahaadiitsit Ta’liiq_*

*n. Muqtana Fii al-Kuna_*

*o. _Al-Mughni Fii adh-Dhu’afaa’_*

*p. _Al-‘Ibar Fii Khabari Man Ghabar_*

*q. _Talkhiishul Mustadrak_*

*r. _Ikhtishar Taarikhil Kathib_*

*s. _Al-Kabaair_*

*t. _Tahriimul Adbar_*

*u. _Tauqif Ahli Taufiq Fi Manaaqibi ash-Shiddiq_*

*v. _Ni’mas Smar Fi Manaaqib ‘Umar_*

*w. _At-Tibyaan Fi Manaaqib ‘Utsman_*

*x. _Fathul Mathalib Fii Akhbaar Ali bin Abi Thalib_*

*y. _Ma Ba’dal Maut_*

*z. _Ikhtishar Kitaabil Qadar Lil Baihaqi_*

*aa. _Nafdhul Ja’bah Fi Akhbaari Syu’bah_*

*bb. _Ikhtishar Kitab al-Jihad, ‘Asakir_*

*cc. _Mukhtashar athraafil Mizzi_*

*dd. _At-Tajriid Fii Asmaa’ ish Shahaabah_*

*ee. _Mukhtashar Tariikh Naisabuur, al-Hakim_*

*ff. _Mukthashar al-Muhalla dan Tartiil Maudhuu’at, Ibn al-Jauzi_*


*Wafatnya*

_Ia wafat pada malam Senin, 3 Dzulqa’dah 748 H, di Damaskus, Syiria dan dimakamkan di pekuburan Bab ash-Shaghir._

*_Sumber: Thabaqah asy-Syafi’iyyah al-Kubra, Tajuddin as-Subki (IX:100-116), Raddul Wafiir, Ibn Nashiruddin ad-Dimasqi, hal.31-32 , Abjadul ‘Ulum, Shiddiq Hasan Khan (III:99-100) ,Dzail Tadzkiratil Huffazh (I:34-37)_*


•┈┈┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈┈┈•


*✍🏻Reposted by  

Rabu, 01 September 2021

KESYIRIKAN YANG SERING TIDAK DISADARI OLEH PELAKUNYA

Kuatir tertimpa nasib sial yang dalam bahasa akidah diistilahkan dengan At-thiyarah atau at-Tathayyur adalah bentuk kesyirikan yang masih menjamur di kalangan masyarakat kita. Thiyarah termasuk syirik yang menafikan kesempurnaan tauhid, karena ia berasal dari apa yang disampaikan setan berupa godaan dan bisikannya. Perkara ini sudah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ berkata: 


اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ. 


“Thiyarah (merasa sial) itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik. Dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakal kepada-Nya.” [HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 909]


Seorang yang bertathayur telah menyelisihi perkara tauhid dari dua sisi:


•  Pertama: Orang yang bertathayyur tidak memiliki rasa tawakal kepada Allah ﷻ dan senantiasa bergantung kepada selain Allah. 


•  Kedua: Ia bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakikatnya, dan merupakan sesuatu yang termasuk tahayul dan keragu-raguan.” [Diringkas dari al-Qaulul Mufid Syarah Kitab at-Tauhid]


Berikut ini di antara contoh Tathayyur yang menjamur di masyarakat kita.


# Mengirim SMS dengan isi yang mengancam akan terjadi kesialan jika tidak disebarkan.


# Merasa sial dengan waktu tertentu seperti bulan Suro. Di sebagian daerah tertentu tidak boleh mengadakan acara pernikahan, karena Suro dianggap sebagai bulan sial. Ada pula yang tidak boleh membuka bisnis, karena bertepatan dengan kematikan kakeknya, dst.


# Untuk mencari hari baik pernikahan, sebagian orang mendatangi orang tua untuk menghitung hari baik berdasarkan Weton dll.


# Merasa sial dengan datangnya hewan tertentu. Contohnya burung gagak yang sering dianggap sebagai hewan pembawa sial atau pertanda kematian.


# Ada pula suami di suatu daerah yang masih banyak percaya, bahwa jika seorang istri sedang hamil, maka suami tak boleh membunuh hewan apa pun, karena hal itu bisa berakibat kesialan bagi anak yang akan lahir.


# Merasa sial dengan angka-angka tertentu, seperti angka 13. Sehingga seandainya kita masuk lift di apartemen atau gedung tinggi di kota-kota besar, kita tidak akan menemui angka 13. Dan masih banyak yang lainnya.


Jangan menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat, atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial, dan ganti dengan tawakal pada Allah ﷻ. Ketika mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, ucapkanlah:


اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ


Allahumma laa ya’ti bilhasanaati illa anta. Wa yadfa’us sayyi-ati illa anta. Wa laa hawla wa laa quwwata illa billah.


Artinya:

“Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau. 

Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali Engkau. 

Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan-Mu.”


Sumber:

Bimbingan Islam

Rumaysho.com