Selasa, 03 Agustus 2021

Hormatilah Kebijakan Bapak Jokowi

 "BAPAK JOKOWI BUKAN AL HAJAJ, MAKA HORMATILAH KEBIJAKANYA."


Seseorang mengirim pesan kepada saya melalui messenger.


"Maaf, apakah Author salah satu pembenci pemerintah?"


Saya jawab :


"Tidak, di Aqidah Sunnah dilarang kita membenci siapapun baik non muslim, apalagi pemerintah."


Dia bertanya kembali ....


"Tapi tadi disana banyak sekali yang membully presiden, apakah digroup sana banyak pembenci Presiden."


"Wallahu a'lam bishowab, saya ga tau dan ga berani menilai, biarin aja, asal jangan kita," jawab saya.


***


Menghormati Presiden atau Pemerintah adalah perintah langsung dari Allah, sang pemilik kehidupan, pemilik neraka dan siksa kubur.


Maka masih adakah yang berani menentang perintah Allah yang jelas tertulis didalam kitabnya?


Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: 


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ 


“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa: 59]


> Lalu ada yang berkilah, bahwa Presiden saat ini bukan termasuk Ulil Amri, karena agamanya tidak jelas.


Sungguh, ketika kita melihat Bapak Jokowi sholat, apakah pantas menyebutnya sebagai seorang yang munafik dan tidak jelas agamanya?


Janganlah memudahkan menuduhkan sesuatu yang buruk pada orang lain, sedangkan diri sendiri banyak keburukan.


***


Masalah ini selalu berulang tiap tahun para pencaci pemerintah, namun mereka akan marah jika di cap sebagai Khawarij (anjingnya neraka).


Mereka berdalih, bahwa mereka tidak memberontak.


Memberontak, tidak selalu dikatakan angkat senjata secara terang-terangan. Salah satunya adalah menggiring opini dan memprovokasi rakyat secara perlahan.


Karena sampai detik ini, masih banyak dauroh dauroh yang mengatas namakan islam namun mengkafirkan pemerintah dan mengatakan demokrasi di indonesia adalah thogut.


Sungguh, jangan pernah kalian masuk kedalam golongan yang membully kebijakan pemerintah, kalau diam-diam kalian masih berharap bansos, kartu prakerja, kartu pintar, dan gas 3kg yang menggunakan subsidi pemerintah.


Lalu kalian berdalih, itu uang rakyat akan kembali ke rakyat.


Benar, namun negara butuh pengembangan infastruktur, negara indonesia banyak pulau, dan masih banyak yang butuh jembatan, penerangan di tempat-tempat terpencil.


Benar, namun sadarlah apakah kita sebagai rakyat adalah yang taat pajak tuk negara? Karena dari uang pajak itulah akan dialokasikan untuk kepentingan negara dan kembali pada rakyat.


Lalu, ada yang berkata, bahwa Jokowi tidak tegas dalam menghukum koruptor?


Mari kita lihat dari awal presiden, adakah hukum mati untuk para koruptor sejak Indonesia menyatakan kemerdekaan?


Lantas kenapa hanya Jokowi yang di bully?


Mereka berkata, lebih enak Jaman Orba yang segalanya murah.


Maka lihat, apakah dijaman Orba UMK 4.4, atau kisaran 4Jt?


Mereka berdalih, bahwa Jokowi Dzholim?


Dzholim yang seperti apa?


Selagi kita masih bisa sholat, kajian ilmu, tidur nyenyak, bebas membully beliau di sosmed, makan kenyang, masih menerima bantuan gratis. Maka dimana letak Dzholimnya?


Jokowi bukanlah Al Hajaj, yang gemar membunuh kaum muslim dan ulama saat itu.


Jokowi bukanlah Al Hajaj, yang gemar bermabuk-mabukan dan membunuh siapa pun yang ketahuan membully, mengkritik kebijakaannya.


Al Hajaj adalah orang yang gemar menumpahkan darah ummat muslim saat itu, namun ulama salaf tidak ada satupun yang memprovokator rakyat untuk memberontak atau menghina Alhajaj saat itu.


Para Ulama Salaf, menyuruh semua menyibukkan diri belajar ilmu agama islam, dan berdoa untuk kebaikan Al Hajaj.


***


Taukah kalian, saya pernah mendengar cerita dari teman sunnah yang mereka punya teman di Syria.


Taukah kalian apa yang mengakibatkan Syria atau Suriah seperti itu?


Berawal dari mereka menentang Kebijakan Pemerintah disana. Berawal mereka melakukan demonstrasi, lalu akhirnya sampai pada pemberontakan yang terang-terangan.


Padahal ulama Salaf menyuruh mereka tetap diam, bersabar, jangan mengkritik, jangan demo. Namun mereka tidak mendengarkannya.


Yah, pemerintah Suriah memang ber Aqidah Syiah Bathinniyah, yang mendzholimi kaum Sunni disana.


Namun, dikarena kaum sunni tidak sabar dan memilih demo, menentang kebijakan presiden. Maka dianggap kudeta atau memberontak, dan akhirnya terjadilah perang antara pemerintah dan rakyat sunni.


Siapakah yang rugi? Rakyat ....


Semua negara islam diam, karena dalam peraturan negara dimanapun, kudeta tidak dibenarkan dan pemerintah suriah menganggap bahwa beliau ingin menghabisi para pemberontak dan mengamankan kembali kondisi negara.


***


Di Indonesia, banyak sekali Isis-isis yang menyebarkan faham mereka ke rakyat awam, menggiring opini agar semua membenci presiden.


Saya teringat teman saya yang ikut dauroh yang bukan isis, namun mengarah pada kebencian pada pemerintah.


Ingatlah,


Jokowi bukan berAqidah Syiah Bathinniyah yang melarang sekolah selain syiah ada, yang melarang pengajian selain syiah ada.


Bukan Al Hajaj, yang gemar menumpahkan darah para ulama dan ummat muslim.


Apalagi Firaun yang jelas mengaku Tuhan.


Lantas dimana letak kedzholimannya?


Jika pengajian masih bebas, sekolah islam masih berdiri malah makin banyak, wanita memakai cadar malah merebak tanpa takut kembali dituduh terorist.


Dimana letak dzholim pada ummat islam?


Jika Adzan berkumandang bebas, anak-anak bebas memakai jilbab.


Bahkan kemarin Presiden jokowi mengambil langkah tegas bagi non muslim yang membuat video tiktok menjelekan palestine.


Lantas dimana letak kekafiran Jokowi dan kemunafikannya sebagai orang islam, Jika beliau masih membela ummat islam?


Jangan terpengaruh dengan Khawarij yang hakikatnya mereka ingin mendirikan khilafah dengan jalur perang ke pemerintah.


Jangan sampai indonesia seperti suriah yang mau diadu domba oleh orang-orang khawarij dengan dalih khilafah.


Apabila rakyat ingin selamat dari kezhaliman pemimpin mereka, hendaknya mereka meninggalkan kezhaliman itu juga.” [5]


Syaikh al-Albani rahimahullah berkata:


“Penjelasan di atas sebagai jalan selamat dari kezhaliman para penguasa yang ‘warna kulit mereka sama dengan kulit kita, berbicara sama dengan lisan kita’ karena itu agar umat Islam selamat: 


1. Hendaklah kaum Muslimin bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.


2. Hendaklah mereka memperbaiki ‘aqidah mereka.


3. Hendaklah mereka mendidik diri dan keluarganya di atas Islam yang benar sebagai penerapan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: 


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ 


“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d: 11] 


Ada seorang da’i berkata: 


أَقِيْمُوْا دَوْلَةَ اْلإِسْلاَمِ فِي قُلُوْبِكُمْ، تُقَمْ لَكُمْ فِيْ أَرْضِكُمْ. 


“Tegakkanlah negara Islam di dalam hatimu, niscaya akan tegak Islam di negaramu.”


Referensi rujukan:

 https://almanhaj.or.id/1399-ahlus-sunnah-taat-kepada-pemimpin-kaum-muslimin.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar