*🍁 MUHASABAH*
*💧 Berwudhu sebelum tidur*
*🔰Rutinkan membaca Alquran*
*🍃Perbanyak istighfar*
*🌌Jaga shalat malam*
*🕗INGATLAH !!...Tidak akan pernah kembali hari hari yang telah berlalu*
*┅══•❃✿☘️🌸☘️✿❃•══┅*
*بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم*
*السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَك*
______________________________
⚠️ *BAHAYA SIKAP MENUNDA-NUNDA*⚠️
______________________________
💧 *“Iya nanti sajalah”, demikian yang dikatakan dalam rangka menunda-nunda pekerjaaan atau amalan padahal masih bisa dilakukan saat itu.*
👉🏻 *Kebiasaan kita adalah demikian, karena rasa malas, menunda-nunda untuk belajar, menunda-nunda untuk muroja’ah (mengulang) hafalan qur’an, atau melakukan hal yang manfaat lainnya, padahal itu semua masih amat mungkin dilakukan.*
🍂 *Perlu diketahui saudaraku,*
👉🏻 *perkataan “sawfa … sawfa”, “nanti sajalah” dalam rangka menunda-nunda kebaikan,*
👉🏻 *ini adalah bagian dari “tentara-tentara iblis”. Demikian kata sebagian ulama salaf.*
💧👉🏻 *Menunda-nunda kebaikan dan sekedar berangan-angan tanpa realisasi, kata Ibnul Qayyim bahwa itu adalah dasar dari kekayaan orang-orang yang bangkrut.*
*إن المنى رأس أموال المفاليس*
*“Sekedar berangan-angan (tanpa realisasi) itu adalah dasar dari harta orang-orang yang bangkrut.”[1]*
💫 *Dalam sya’ir Arab juga disebutkan,*
*وَ لاَ تَرْجِ عَمَلَ اليَوْمِ إِلَى الغَدِ لَعَلَّ غَدًا يَأْتِي وَ أَنْتَ فَقِيْدُ*
👉🏻 *Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok*
💧 *Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan*
🍃 *Dari Abu Ishaq, ada yang berkata kepada seseorang dari ‘Abdul Qois,*
👉🏻 *“Nasehatilah kami.*
👉🏻 *” Ia berkata, “Hati-hatilah dengan sikap menunda-nunda (nanti dan nanti).”*
🍃 *Al Hasan Al Bashri berkata, “Hati-hati dengan sikap menunda-nunda.*
👉🏻 *Engkau sekarang berada di hari ini dan bukan berada di hari besok.*
👉🏻 *Jika besok tiba, engkau berada di hari tersebut dan sekarang engkau masih berada di hari ini.*
👉🏻 *Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu di hari ini.”[2]*
💧 *Itulah yang dilakukan oleh kita selaku penuntut ilmu.*
👉🏻 *Besok sajalah baru hafal matan kitab tersebut.*
👉🏻 *Besok sajalah baru mengulang hafalan qur’an.*
👉🏻 *Besok sajalah baru menulis bahasan fiqih tersebut.*
👉🏻 *Besok sajalah baru melaksanakan shalat sunnah itu, masih ada waktu.*
👉🏻 *Yang dikatakan adalah besok dan besok, nanti dan nanti sajalah.*
🪴 *Jika memang ada kesibukan lain dan itu juga kebaikan, maka sungguh hari-harinya sibuk dengan kebaikan.*
*Tidak masalah jika ia menset waktu dan membuat urutan manakah yang prioritas yang ia lakukan karena ia bisa menilai manakah yang lebih urgent.*
*Namun bagaimanakah jika masih banyak waktu, benar-benar ada waktu senggang dan luang untuk menghadiri majelis ilmu, muroja’ah, menulis hal manfaat, melaksanakan ibadah lantas ia menundanya.*
*Ini jelas adalah sikap menunda-nunda waktu*
👉🏻 *yang kata Ibnul Qayyim termasuk harta dari orang-orang yang bangkrut.*
👉🏻 *Yang ia raih adalah kerugian dan kerugian.*
*Lihatlah bagaimana kesibukan ulama silam akan waktu mereka.* *Sempat-sempatnya mereka masih sibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah.*
🍃 *Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya.*
*Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk.*
*Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertakbir.*
*Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”[3] Subhanallah … Lisan selalu terjaga dengan hal manfaat dari waktu ke waktu.*
*Ingatlah nasehat Imam Asy Syafi’i –di mana beliau mendapat nasehat ini dari seorang sufi-[4],*
*“Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal.*
*(Di antaranya), dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”[5]*
*Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari.*
*Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”[6]*
*Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan waktu kita dengan hal yang bermanfaat dan menjauhkan kita dari sikap menunda-nunda.*
*Wabillahit taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.*
*Riyadh-KSA, 26 Rabi’uts Tsani 1432 H (31/03/2011)*
*[1] Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 1/456, Darul Kutub Al ‘Arobi. Lihat pula Ar Ruuh, Ibnul Qayyim, 247, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah; Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 2/325, Muassasah Ar Risalah; ‘Iddatush Shobirin, Ibnul Qayyim, 46, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.*
*[2] Dinukil dari Ma’alim fii Thoriq Tholabil ‘Ilmi, Dr. ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdillah As Sadhaan, 30, Darul Qobis*
*[3] Az Zuhud li Ahmad bin Hambal, 3/321, Asy Syamilah*
*[4] Ini menunjukkan bahwa tidak masalah mendapat nasehat dari orang yang berpahaman menyimpang (semacam sufi) selama si penyimak tahu bahwa hal itu benar.*
*[5] Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah*
*[6] Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi*
*Sumber https://rumaysho.com/1645-bahaya-sikap-menunda-nunda.html*
*Via HijrahApp*
*بارك الله فیکم و أهلیکم و في أموالکم*
*_Silakan dishare dan disave. Baarakallahu fiikum_*
*•┈•❁❃❀🍃•🌀•🍃❀❃❁•┈•*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar