Sabtu, 22 Desember 2018

HRD, Kacab dan Wakacab yang Dzhalim eps. 02

Ketika saya sudah membuat surat resign dan saat surat tersebut diberikan kepada HRD (Yanti) kemudian saya disuruh buat revisi terhadap surat resign saya tersebut. Saya pun merevisi surat tersebut per tanggal 31 Agustus 2018.


Singkat cerita...
Saat aku membawa anakku untuk imunisasi, kemudian dokter melihat fisik kepala anakku yang terlihat tidak normal. Aku pun dirujuk ke dokter anak. 
Habis dari imunisasi di puskesmas, aku langsung menuju dokter anak. Dokter anak pun menyarankan untuk USG kepala apakah anakku menderita Hydrosepalus atau tidak. Berangkatlah aku yang ditemani ibu mertua untuk USG kepala (masih di RS yang sama dengan jadwal dokter anaknya yaitu di RS Restu Ibu Balikpapan).

Pemeriksaan demi pemeriksaan dilewati anakku dengan lancar. Tibalah hasil diagnosa USG kepala anakku keluar dan hasilnya adalah "Hydrosepalus". Setelah hasil keluar kami disarankan untuk kembali ke dokter anak agar aku mendapatkan solusi bagaimana tindak lanjutnya. 
Maka kembalilah aku ke dokter anak (di hari yang berbeda sesuai jadwal dokter anak tersebut). Dari dokter anak, aku dirujuk untuk ke RS Kanudjoso Djatiwibowo untuk bertemu dengan dokter bedah saraf. 

Keesokan harinya aku bertemu dengan dokter bedah saraf (sesuai jadwal dokter di RS tersebut). Dokter bedah saraf menyarankan untuk CT-Scan kepala karena beliau berkata hasil USG kepala tidak selamanya 100% akurat. Kalo CT-Scan kepala maka hasilnya 100% akurat karena bisa diketahui ada apa didalam kepala anakku tersebut.
Maka aku pun memulai semua proses tersebut agar anakku sembuh. Hasil CT-Scan pun keluar dan ternyata dokter bedah saraf mengatakan bahwa anakku menderita penyakit "Cranyosinotosis" yaitu penyakit "Kelainan Tulang Tengkorak" dimana tulang tengkorak anakku sudah ada yang menutup terlebih dahulu sehingga perkembangan otaknya akan mencari celah atau ruang kosong untuk berkembang. Dan bentuk kepala anakku berkembang kebelakang sehingga yang depan terlihat besar seperti hydrosepalus. Dari keterangan dokter tersebut anakku harus segera dioperasi untuk mengembalikan kepalanya ke bentuk normal, karena jika tidak dioperasi maka seiiring pertumbuhan anakku kelak akan merasakan sakit kepala yang luar biasa hingga anakku beranjak dewasa kelak.

Ketika mendengar kata operasi, maka aku pun merundingkannya bersama suami. Alhamdulillah suami menyetujui untuk dilakukannya operasi agar anak kami sembuh. Aku pun menyetujui saran dokter untuk segera dioperasi, tetapi dokter tersebut menyarankan agar operasinya dilakukan di RS AWS (AW. Syahranie) Samarinda karena di RS tersebut banyak dokter bedah sarafnya dan peralatan operasinya lebih lengkap. Mengapa dirujuk ke RS AWS??? Karena dokter bedah saraf di balikpapan hanya ada 1 dan dokternya akan dinas keluar kota selama 1 bulan, jika menunggu beliau kembali kasihan anakku. Oke fix saya ikuti rujukan dokter. Dan aku pun mengurus semua prosedurnya hingga selesai agar ketika ke RS AWS tidak bolak balik.


Singkat cerita...
Selesai anakku operasi masuk ruang PICU. Akupun tidur diemperan atau lorong sepanjang ruangan PICU agar jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu terhadap anakku, aku bisa berlari dengan cepat.
Saat aku masih menunggu di lorong ruang PICU, Yanti whatsapp menanyakan bagaimana dengan pengisian surat form exitnya. Aku pun langsung marah besar, orang ni ya bener-benar manusia gak punya hati. Dimana hati nuranimu mbak??? Kamu belum merasakan apa yang aku rasakan mbak??? Makanya kamu bisa berperilaku demikian. Gak tau kah aku lagi tertimpa musibah masih mikirin hal itu??? Astaghfirullahaldhzim... Akhirnya ku suruh Yanti untuk kirim form nya lewat email samarinda biar Fuad (HRO Samarinda) yang datang ke RS bawa form nya.

Keesokan harinya Fuad datang berkunjung ke RS, aku pun tanpa basa basi langsung meminta surat form tersebut, dimana saat itu ada suamiku juga. Fuad pun ingin melihat kondisi anakku. Jadi kusuruh suami ku antar ke ruang PICU karena kebetulan sudah masuk jam besuk d ruang PICU. Ketika Fuad melihat kondisi anakku pun beliau merasa iba dan gak bisa berkata apa-apa.


Singkat cerita...
Ketika aku mengalami kesusahan tidak ada satupun bantuan materi dari teman-teman kerja ku dlu di tripa yang ku dapat. Bahkan menanyakan kondisi anakku juga tidak. Bahkan pak Wahid selaku kacabnya saja tidak ada basa basi menanyakan kondisi anakku apalgi sengaja datang untuk melihat kondisi anaku. Padahal setiap miting selalu dibahas kebersamaan. Tapi ternyata BULLSYIT... Mereka bener-bener manusia gak punya hati. Yang baik hanya teman-teman SD ku saja yang memberikan sumbangan materi untuk aku dan ibuku bertahan selama di RS (selama anakku dirawat di RS AWS Samarinda aku ditemani ibu kandungku). Hingga akhirnya anakku meninggal pun tidak ada sumbangan materi dari teman-teman tripa. Ya Allah teganya mereka berbuat seperti itu padaku. Terlihat sekali perbedaan antara aku dengan pegawai yang lainnya.

Alhamdulillah teman-teman kerja suamiku lah yang menyumbangkan materi uang duka cita untuk anakku. Temen-teman kerja ku dulu hanya datang saat pemakaman anakku, itupun setelah aku whatsapp Wandi (Kasie marketing) mau pinjam mobil tripa samarinda untuk ke balikpapan bawa jenazah anakku. Tapi gak jadi karena sudah dapat pinjaman ambulans gratis dari bulik ku yang disamarinda yang kebetulan kenal dengan yang punya yayasan ambulan gratis tersebut.

Sampai dibalikpapan sudah ashar, selesai solat ashar, jenazah anakku disolatkan lalu dimakamkan. Teman-teman tripa yang datang dipemakaman adalah Wiwin, Kelik dan Wandi. Deby dan Yanti hanya mengirimkan pesan melalui whatsapp yang isinya turut berduka cita. Dipesan tersebut Deby menyampaikan tidak bisa datang karena ada urusan dengan BNI. Bagiku tak masalah mereka gak datang, karena gak penting juga mereka hadir.


Singkat cerita....
Dari situlah aku mulai dendam, kecewa dan sakit hati terhadap mereka semua sampai saat ini. Aku merasa ketika aku tertimpa musibah mereka seperti tidak memperdulikan aku sama sekali. Tetapi ketika karyawan lain tertimpa musibah mereka perduli, datang menjenguk dan memberikan bantuan materi. Tapi pada saat aku melahirkan hingga anakku meninggal, mereka tidak ada memberikan bantuan materi. Maka, ketika lombok diguncang gempa Yanti sempat membuat status di whatsapp bahwasanya untuk temen-teman yang ingin menyumbangkan dana untu korban di lombok bisa ditransfer kerekeningnya Yanti. Tetapi saat aku yang tertimpa musibah bukan bantuan yang ku dapat, malah ketidakperdulian mereka. Mereka datang menjenguk hanya untuk memberikan aku kabar buruk (seperti cerita aku sebelumnya). Sungguh mereka sangat dzhalim sekali.

Aku merasa mungkin inilah ujian yang harus aku hadapi. Mereka sudah sangat dhzalim terhadapku. Aku cuma bisa berdoa semoga mereka mendapatkan balasan setimpal seperti aku karena sudah sangat dzhalim terhadap ku.


Cerita Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar